Photo by David Werbrouck on Unsplash

Pada setiap hari yang melelahkan, aku ayunkan godam ke sekeliling. Hingga aku merasa menang. Tidak ada perlawanan dari orang-orang. Tiada yang punya kelimpahan nyawa untuk menghentikan diriku.

Aku ingin punya bahagia, memenuhi usangnya lemari bajuku. Tanpa perlu merebut bahagia dari udara. Mengakuisisi sendiri.

Jika dilihat ke belakang, punggungku ini penuh jenggala. Terus merambat ke setiap bekas langkah yang sudah tersisih di belakang. Ia rimbun, tetapi kering, sepi, dan menjijikan. Hanya ada perasaan bersalah yang berinvestasi di dalamnya.

“Tebang saja!” mungkin itu suara hati kecilku. Ia kecil dan tidak berperan penting. Engkau harus keras untuk menjajah jenggalaku. Ketidakmampuan hanya akan jadi tambahan beban — bagi semua.

Pada akhirnya, palu akan mengetuk dan menjerumuskan dunia dalam genggamanku. Tidak ada yang berani. Termasuk diri sendiri.

--

--

Photo by Birmingham Museums Trust on Unsplash

hari-hari berselisih
tentang siapa yang mencintaimu utuh
Senin beradu dengan Selasa
Rabu dan Kamis bentrok melawan Jumat
Sabtu kacau balau diterpa Minggu

ya, pada akhirnya mereka pun tahu
bahwa aku yang terlebih dulu menyematkan rindu di hatimu

dikunci rasamu
agar terus mengarah kepadaku
lagi dan lagi

Bogor, 12 Mei 2018

--

--

Photo by Tom Barrett on Unsplash

di setiap doa
akan selalu kututup
dengan doa untukmu
lalu amin, amin, amin

apa banyaknya amin bisa meningkatkan kesempatan
doa untuk diijabah?
jika iya, maka setiap doa yang terselip namamu
akan kuucapkan amin hingga doaku yang di esok hari

aamiin ya rabbal ‘alamin

Bogor, 21 Oktober 2018

--

--

Swan

Kadang menulis, kadang mengetik, dan kadang mengambil gambar tak bermakna. Instagram: @malversatie